Jakarta (Humas MAN 2 Jkt) –Kepedulian terhadap kesehatan mental remaja terus dikembangkan oleh MAN 2 Jakarta melalui berbagai kegiatan positif dan edukatif. Salah satunya diwujudkan oleh komunitas Sobat Jiwa yang menggelar kegiatan ecotherapy di Taman Layangan, Ciracas, Jumat (11/9/2026).
Kegiatan tersebut diikuti oleh 20 siswa anggota Sobat Jiwa MAN 2 Jakarta yang memiliki kepedulian terhadap isu kesehatan mental di kalangan remaja.
Para peserta mengikuti kegiatan dengan penuh antusias. Mereka diajak keluar dari suasana belajar rutin di sekolah dan menikmati ruang terbuka hijau sebagai bagian dari aktivitas yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan psikologis.
Kegiatan ecotherapy ini didampingi oleh guru Bimbingan dan Konseling (BK) MAN 2 Jakarta. Pendampingan tersebut menjadi bagian penting agar seluruh rangkaian kegiatan tetap berjalan secara edukatif, aman, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan peserta didik.
Pelaksanaan kegiatan juga melibatkan mahasiswa Bimbingan dan Konseling Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA) Jakarta. Kolaborasi tersebut menjadi ruang belajar bersama antara siswa, guru BK, dan mahasiswa calon konselor.
Ecotherapy merupakan pendekatan yang memanfaatkan interaksi positif dengan alam sebagai salah satu aktivitas pendukung kesejahteraan psikologis. Dalam kegiatan ini, alam menjadi ruang untuk beristirahat sejenak dari rutinitas sekaligus melakukan refleksi diri.
“Taman Layangan Ciracas dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memberikan suasana terbuka yang memungkinkan peserta berinteraksi dengan lingkungan sekitar,” ujar Naeni Rohmawati, guru BK MAN 2 Jakarta di sela mendampingi Ecotherapy. Pepohonan, udara terbuka, serta ruang hijau menjadi bagian dari pengalaman belajar yang berbeda.
Sejak awal kegiatan, para siswa tampak menikmati suasana lingkungan taman. Mereka mengikuti berbagai aktivitas yang dirancang untuk membangun kesadaran terhadap diri sendiri, lingkungan, dan hubungan sosial.
Guru BK mendampingi siswa selama kegiatan berlangsung. Pendampingan dilakukan melalui komunikasi yang terbuka dan pendekatan yang bersahabat sehingga siswa dapat mengikuti kegiatan dengan nyaman.
“Kegiatan ini tidak sekadar mengajak siswa berjalan-jalan di ruang terbuka. Lebih dari itu, ecotherapy menjadi sarana untuk mengenali pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas akademik, kehidupan sosial, dan kebutuhan untuk beristirahat.” pungkas Naeni menutup perbincangan pagi itu. (Yuyum D)






