Jakarta (Humas MAN 2 Jkt) –MAN 2 Jakarta menggelar kegiatan Coffee Morning bersama Pengawas Madrasah, Susiana Manisih, sebagai ruang silaturahmi sekaligus diskusi untuk memperkuat implementasi Kurikulum Berbasis Cinta. Kegiatan berlangsung pada Selasa, 18 Agustus 2026, dalam suasana hangat dan penuh keakraban, namun tetap fokus pada upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengelolaan madrasah. Pertemuan ini menjadi upaya  penting untuk menyamakan persepsi dan membangun komitmen bersama dalam menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga menumbuhkan karakter, kepedulian, dan nilai-nilai kemanusiaan peserta didik. Coffe morning dibuka oleh Kepala MAN 2 Jakarta, Aceng Solihin. Dalam sambutannya Kepala MAN 2 Jakarta mengajak seluruh guru untuk melakukan perencanaan pembelajaran hingga refleksi.

Dalam diskusi tersebut, para peserta membahas bagaimana semangat Kurikulum Berbasis Cinta dapat diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan madrasah. Cinta kepada Allah, sesama manusia, ilmu pengetahuan, lingkungan, dan tanah air diharapkan tidak berhenti sebagai konsep, tetapi hadir dalam proses pembelajaran, budaya madrasah, maupun interaksi antara guru dan peserta didik. Pendekatan ini diyakini dapat menciptakan suasana belajar yang lebih positif, aman, menyenangkan, dan mendorong peserta didik berkembang secara utuh.

Pembahasan semakin menarik ketika diarahkan pada pemanfaatan aplikasi MAGIS sebagai salah satu sarana pendukung implementasi Kurikulum Berbasis Cinta. Melalui pemanfaatan teknologi, berbagai program, aktivitas, dan praktik baik madrasah dapat terdokumentasi serta dikelola secara lebih sistematis. MAGIS diharapkan mampu menjadi instrumen yang membantu madrasah dalam mengintegrasikan nilai-nilai cinta ke dalam berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan sekaligus memudahkan proses pemantauan dan evaluasi. Nilai dalam Kurikulum ini meliputi nilai ekologi, spiritual, kebangsaan, intelektual, personal, dan sosial.

“Implementasi nilai cinta ini berawal dari guru sendiri dengan berkolaborasi membentuk tim guru, misalnya membuat pohon cinta di ruang guru,” ujar Susiana.

Susiana memberikan penguatan bahwa transformasi kurikulum membutuhkan kolaborasi dan komitmen seluruh kompnen madrasah. Digitalisasi melalui MAGIS hendaknya tidak sekadar menjadi tuntutan administratif, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun tata kelola madrasah yang efektif, transparan, dan berorientasi pada peningkatan mutu. Dengan demikian, teknologi dapat menjadi jembatan untuk memastikan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta benar-benar terimplementasi dalam praktik pendidikan sehari-hari.

Kegiatan Coffee Morning juga menjadi ruang bertukar gagasan mengenai berbagai tantangan dan peluang yang dihadapi madrasah dalam menerapkan Kurikulum Berbasis Cinta. Guru dan tenaga kependidikan didorong untuk terus berinovasi dalam menciptakan pembelajaran yang humanis, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik. Sinergi antara kepala madrasah, guru, pengawas, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci agar transformasi pendidikan dapat berjalan secara konsisten dan berkelanjutan.

Melalui Coffee Morning bersama Pengawas ini, MAN 2 Jakarta semakin menguatkan  komitmennya untuk terus bergerak menghadirkan madrasah yang unggul sekaligus berkarakter. Kurikulum Berbasis Cinta melalui pemanfaatan aplikasi MAGIS diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk membangun ekosistem pendidikan yang menguatkan ilmu, akhlak, kepedulian, dan kreativitas peserta didik. (YD)