Jakarta (Humas MAN 2 Jkt) –Semangat literasi dan keberanian berkarya mengemuka dalam Peringatan Bulan Bahasa di MAN 2 Jakarta, Kamis (8/10/2026). Mengusung tema “Terbang Bersama Kata, Berkarya Tanpa Batas”, kegiatan ini tidak sekadar menjadi seremoni kebahasaan, tetapi menjadi ruang bagi siswa untuk menunjukkan kreativitas, keberanian tampil, sekaligus membangun mimpi tentang masa depan.
Rangkaian kegiatan telah dimulai sehari sebelumnya dengan berbagai perlombaan yang melibatkan siswa dan guru. Sejumlah kompetisi digelar, di antaranya musikalisasi puisi, mendongeng, spelling bee, Man Ana, serta lomba busana daerah khusus guru. Beragam lomba tersebut menghadirkan suasana semarak sekaligus menunjukkan bahwa bahasa dapat menjadi medium untuk mengekspresikan seni, budaya, pengetahuan, dan karakter.
Puncak peringatan Bulan Bahasa menghadirkan Waitatiri, seorang penulis lulusan Harvard University, sebagai narasumber. Kehadiran perempuan yang menguasai 8 bahasa asing ini menjadi magnet tersendiri bagi para siswa. Ia tidak hanya berbicara tentang dunia kepenulisan, tetapi membawa pesan yang lebih luas tentang keberanian bermimpi dan pentingnya pendidikan sebagai jalan untuk mewujudkan cita-cita.
Di hadapan siswa MAN 2 Jakarta, Waitatiri mendorong generasi muda agar tidak membatasi mimpi hanya karena keadaan hari ini. Menurutnya, siswa harus berani memiliki cita-cita besar dan berani menuntut ilmu setinggi mungkin. Namun, pencapaian akademik dan kesuksesan, kata dia, harus tetap berjalan beriringan dengan iman dan akhlak yang terpuji.
Pesan tersebut menjadi relevan dengan semangat tema Bulan Bahasa tahun ini. “Terbang Bersama Kata, Berkarya Tanpa Batas” bukan sekadar rangkaian kata, melainkan ajakan agar siswa menjadikan bahasa sebagai kekuatan untuk berpikir, menyampaikan gagasan, menghasilkan karya, dan membuka cakrawala dunia. Bahasa menjadi jembatan yang menghubungkan pengetahuan, kreativitas, dan keberanian untuk melangkah lebih jauh.
Antusiasme siswa terlihat sepanjang rangkaian kegiatan. Panggung Bulan Bahasa menjadi ruang bagi mereka untuk tampil dengan karakter dan kemampuan masing-masing. Musikalisasi puisi menghadirkan perpaduan sastra dan musik, mendongeng menguji kemampuan bertutur, spelling bee mengasah penguasaan bahasa, sementara Man Ana menantang keberanian dan pengetahuan peserta dalam berbahasa Arab. Di sisi lain, lomba lagu daerah yang diikuti oleh guru turut memperkuat pesan bahwa bahasa dan budaya merupakan bagian penting dari identitas bangsa.
Kegiatan kemudian ditutup dengan pembagian hadiah kepada para pemenang lomba. Apresiasi diberikan sebagai bentuk penghargaan atas keberanian, kreativitas, kerja keras, dan sportivitas para peserta selama mengikuti kompetisi. Dari panggung Bulan Bahasa MAN 2 Jakarta, pesan yang tertinggal bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara, tetapi tentang keberanian untuk mencoba, berkarya, dan terus belajar.
“Mari kita ambil hikmah dari momen ini, untuk lebih cinta pada bangsa,lebih bangga berbahasa Indonesia dan berperilaku sesuai dengan adat dan budaya Indonesia,“ tegas Kepala MAN 2 Jakarta, Aceng Solihin di sela sambutannya.
Peringatan Bulan Bahasa 2026 akhirnya menjadi momentum untuk menegaskan bahwa madrasah bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan mimpi dan karakter. Dari kata-kata lahir gagasan, dari gagasan lahir karya, dan dari karya lahir generasi yang mampu melangkah lebih jauh. MAN 2 Jakarta pun terus mendorong siswanya untuk terbang bersama kata, berkarya tanpa batas, serta menatap masa depan dengan ilmu, iman, dan akhlak. (YD)






