Keberadaan Rohis MAN 2 Jakarta sudah tak asing lagi di kalangan siswa, bahkan eksistensinya telah merambah ke tingkat provinsi. Setiap event lomba yang diikuti Rohis MAN 2 Jakarta selalu mengantongi berbagai kejuaraan.

Pekan lalu, misalnya, kelompok yang berciri khas dakwah dan nuansa islami ini menyabet tiga kejuaraan Lomba Keterampilan Agama (Loketa) pada. Bertempat di Masjid Istiqlal, kegiatan ini diselenggarakan oleh Rohis DKI Jakarta dan melibatkan seluruh ekskul Rohis SMU/MA se-DKI Jakarta.

MAN 2 Jakarta yang mewakili Rohis wilayah Jakarta Timur bersaing ketat dengan peserta lain dalam berbagai keterampilan agama Islam. Akhirnya setelah melalui seleksi ketat dewan juri, MAN 2 Jakarta meraih kategori lomba Dai dan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Ketiga pemenang itu adalah:
1. Kemal Azka Ridho sebagai Juara I Lomba Dai
2. Syfa Mumtaza sebagai Juara 2 MTQ
3. Okki Dwi Cahya sebagai Juara 3 MTQ

Sepekan kemudian, tepatnya Minggu 5 Agustus 2018, lagi-lagi tim Rohis mengharumkan nama almamater MAN 2 Jakarta. Bertempat di SMAN 5 Bekasi, para calon hafidz dan dai ini berhasil memboyong tiga piala, yakni juara I Cerdas Cermat Islam, Juara I dan III Lomba Adzan. Tim Cerdas Cermat Islam yang beranggotakan Hamdan Al Ghifari, Naufal Hafidz Awladana, dan Muhammad Alridho Kharisma ini berhasil mengalahkan tim lawan yang berasal dari SMU/MA se-Jabodetabek.

“Tantangan utama bagi kami adalah saat babak rebutan. Kami harus fokus pada pertanyaan dan kesigapan menekan tombol,” ujar Hamdan, sang juru bicara. Lain halnya dengan Muhammad Almisky dan Yusnanda Aditya yang masing-masing memperoleh peringkat I dan III Lomba Adzan. Mereka merasakan takut dan gugup saat memasuki babak final.

“Saat disebut nama kami berdua masuk final, kami kaget campur bahagia, karena baru kali ini kami mengikuti lomba Adzan,” kata Yusnanda dengan wajah berbinar. Namun kerja keras mereka akhirnya berbuah manis. Keduanya memenangkan hadiah dalam kejuaraan yang sama.

Keberhasilan Tim Rohis tersebut tak lepas dari bimbingan guru agama, yakni Bapak Samian, S.Pd., dan Ust.Zamal, S.Pd. Dalam sebuah kesempatan Ust. Zamal, S.Pd. mengatakan bahwa, kemampuan berdakwah dan membaca Al Quran siswa madrasah harus lebih unggul dan menjadi contoh siswa lain yang bersekolah di jalur pendidikan umum. “Bekal ilmu keagamaan siswa madrasah tentu lebih mendalam dibandingkan mereka (siswa SMU). Ini yang seharusnya jadi kebanggaan siswa madrasah.” tegasnya.
Apa yang dikatakan Ust. Zamal, S.Pd. sangatlah tepat, dakwah dan membaca Al Quran semacam “santapan” sehari-hari siswa madrasah. Maka mengikuti berbagai lomba keagamaan di sekolah umum adalah salah satu cara untuk menunjukkan jati diri mereka sekaligus membuktikan bahwa siswa madrasah mampu bersaing dengan siswa dari sekolah umum. Sebut saja Kemal, sebagai peraih juara I Lomba Dai, siswa berperawakan jangkung ini sudah cukup sering malang-melintang dalam kompetisi dakwah. Sebelumnya, dia berhasil masuk 5 besar dalam lomba dakwah yang diselenggarakan Polda Metro Jaya. Tak heran jika kemampuan berceramahnya makin terasah. “Saat di panggung dakwah rasanya senang dapat menebarkan ilmu agama pada khalayak umum. Apalagi jika materi yang saya bawakan disukai oleh pendengar.” Demikian ungkapnya dengan wajah sumringah.
Lain Kemal, lain pula dengan Okki Dwi Cahyo. Siswa kelas XI Agama yang pemalu ini mengungkapkan bahwa tilawah Al Quran sebagai salah satu cara untuk mengajak ummat Islam agar lebih mencintai Al Quran daripada buku bacaan lain. “Sedih rasanya melihat teman-teman kalau mengaji saja harus dipaksa oleh bapak/ibu guru, sedangkan setiap saat mereka tak lepas dari Handphone.” Subhanallah. Semoga mereka kelak menjadi generasi muslim penegak agama dan pembela Al Quran. (Yuyum Daryumi)