Di masa sekarang, tak banyak yang tahu nama-nama sastrawan era 70-an ke belakang. Siswa dan masyarakat umumnya lebih memilih sastrawan yang ramai menorehkan karyanya di dunia maya. Penulis wattpad semacam Eriska Febriana dan yang lainnya memang memiliki tempat tersendiri di kalangan pembaca remaja masa kini.
Namun sesekali tengoklah sejarah sastra Indonesia. Banyak novelis terkenal hingga ke mancanegara karena karya-karyanya memang memiliki nilai kehidupan yang luhur. Masa itu, novel merupakan hiburan sekaligus tuntunan bagi pembacanya. Sebut saja HAMKA, Mochtar Lubis, Umar Kayam, Pramoedya Ananta Toer, dan K. Usman sempat mewarnai pentas sastra Indonesia.
Beberapa di antaranya telah meninggalkan dunia fana, tapi sebagian kecil yang berumur panjang tak henti menuliskan karya terbaiknya. Salah satu novelis senior yang hingga saat ini masih berkarya adalah K.Usman. Novelis kelahiran Dusun Tanjung Serian,Palembang, 11 Agustus 1940 ini masih aktif menulis novel meramaikan dunia sastra Indonesia. Tak cukup menulis, beliau pun aktif melakukan dialog dengan banyak kalangan terkait dunia menulis dan perkembangan sastra Indonesia.

Rabu (9/8 2018) pagi ini misalnya, K.Usman menyempatkan diri berkunjung ke MAN 2 Jakarta. Maksud kedatangan beliau tak lain untuk berdialog langsung dengan para siswa seputar dunia sastra. Saat ditanya , kenapa memilih MAN 2 Jakarta, dengan lugas beliau mengatakan, “MAN 2 Jakarta merupakan salah satu madrasah yang aktif melakukan kegiatan literasi, dan saya mendukungnya dengan cara berbincang dengan mereka, meskipun rentang usia yang terpaut jauh tapi sastra yang menyatukan. Saya seperti merasa muda lagi di sini.” selorohnya diiringi tawa ceria.

Ya, dunia sastra, dalam hal ini menulis, merupakan cara terbaik untuk mengungkapkan apa pun yang tersirat dalam pikiran kita. Hal ini sejalan dengan apa yang beliau ungkapkan, “Kakek menulis ini karena memang dari kecil hobi membaca. Orang tua yang hanya sebagai buruh tambang minyak, membuat hidup Kakek serba susah dan tak mampu membeli buku. Koran bekas bungkus yang lusuh itu dikumpulkan dan jadi bacaan Kakek waktu itu,” demikian beliau memulai kisahnya sehingga menjadi penulis terkenal.”

Sebanyak 736 siswa yang berada di lapangan MAN 2 Jakarta terkesan dengan kisah perjuangan panjangnya dalam menulis hingga menerbitkan puluhan novel. Beberapa karya novelnya di antaranya Peluru, Perempuan yang Cemburu, Kejora, Jamilah, dan Rumah Rindu. Berbagai instansi pun mengakui kualitas karyanya yang patut diacungi jempol. Berbagai pernghargaan telah diraihnya, seperti Penghargaan Majalah Femina tahun 1980, untuk cerpen “Setelah Musim Jamur”, Hadiah Yayasan Buku Utama tahun1987, untuk Buku Kumpulan Puisi anak “Puisi Rumah Kami”, dan cerpennya yang berjudul “Ikan di dalam Batu” merupakan cerpen pilihan KOMPAS tahun 2001.
“Surprise sekali pagi ini kami bisa bertemu langsung dengan sastrawan senior, pengalaman beliau sungguh menginspirasi saya untuk terus membaca, rajin menuliskan apa pun yang dilihat dan yang paling penting pantang menyerah!” tutur Muchtar Yahya, siswa Kelas XII Bahasa usai berfoto bersama sang novelis.

Apa yang diungkapkan Muchtar tadi semoga benar adanya, bahwa siapa pun, dapat dijadika inspirasi hidup, sepanjang memiliki nilai-nilai kebajikan. Seperti yang diungkapkan K.Usman di akhir dialog, bahwa sudah sepantasnyalah anak muda menanggung rindu (cita-cita), dan yang tua menanggung ragam (pengalaman). Literasi pagi yang sungguh menginspirasi. (Yuyum Daryumi)