Jakarta (Humas-MAN 2 Jkt) –- Tak putus semangat mengukir prestasi. Rupanya inilah yang terus bergelora dalam benak kesembilan siswa MAN 2  Jakarta. Bagaimana tidak, seperti marathon, sejak tiga bulan lalu mereka mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba debat Sejarah tingkat nasional. Lomba yang dilenggarakan secara online  oleh Fakultas Ilmu Budaya UI ini dikemas dalam  kegiatan History Fair Universitas Indonesia 2022.

Sebanyak 15 tim dari berbagai provinsi di tanah air mengikuti ajang bergengsi ini. Tema yang diusung kali ini tentang Sejarah Pers Indonesia. Juri yang dihadirkan dalam lomba kali ini adalah dosen dan pakar Sejarah dari Universitas Indonesia. Lomba yang dimulai dengan babak penyisihan pada Senin 10 Oktober 2022 dan grand final hari ketiga, 12 Oktober 2022. Pada babak grand final, tiga tim yang lolos yakni Tim 1 dan 3 dari MAN 2 Jakarta serta SMAN 1 Ciamis, Jawa Barat.

Setelah melalui penilaian sangat ketat,  juri memutuskan bahwa peringkat pertama diraih oleh Tim 3 MAN 2 Jakarta, peringkat 2 oleh Tim 1 MAN 2 Jakarta, dan peringkat diraih SMAN  1 Ciamis.

“Debat tahun ini lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. 3 tim di babak grand final terlihat berupaya keras mempertahankan mosi masing-masing. Dan kami akui bahwa penguasaan materi dan retorika dari Tim MAN 2 Jakarta sangat bagus, “ puji salah satu panitia History Fair Universitas Indonesia 2022.

Pencapaian ini rupanya sebanding dengan upaya kerja keras Tim Debat dan tiga guru pembimbingnya. Tak tanggung-tanggung dalam berburu literatur, mereka mencari tahu tentang pers negeri ini langsung ke tempat asalnya yakni Museum Pers di Surakarta, Jawa Tengah.

“Di Museum Pers anak-anak dapat menyaksikan langsung bukti sejarah pers Indonesia dari masa penjajahan Belanda, juga berdialog dengan pakar sejarah pers,” ujar Tyas Ayu Karyasih, salah satu guru pembimbing Sejarah. Tak hanya berkunjung ke tempat-tempat yang berkaitan dengan tema debat seperti Perpustakaan Nasional, mereka juga memperkaya diri dengan khasanah keilmuan.  Tak pelak, referensi berupa buku dan jurnal menjadi sumber yang tak terlewatkan bagi mereka.

“Kami juga berlatih public speaking  yang meliputi gaya berbicara, narasi yang digunakan, gesture tubuh,” tambah Siti Sarifah Pido Habibie, salah satu peserta debat.

Tak cukup meggondol dua juara, rupanya penampilan salah satu peserta Tim debat MAN 2 Jakarta mencuri perhatian juri. Maka ketiga juri memutuskan bahwa Muhammad Nabil Subagja Hadiwidjaja menjadi Best Debate Speaker. Saat ditanya kunci menjadi Best debat speaker, Nabil menjelaskan bahwa gelar ini dapat diraih jika seseorang mempunyai kemauan tingg. Hal ini dapat terlihat dalam retorikanya dalam meyakinkan, mengarahkan topik seuai dengan fakta. Di akhir perbincangan Nabil berpesan pada generasi millennial agar pemuda Indonesia menjadi bagian yang tak hanya memajukan bangsa dengan ucapan, tapi juga melakukannya denga penuh tanggung jawab. Bravo debater MAN 2 Jakarta! (Yuyum D)