Banyak cara untuk menjadi guru kreatif dan memiliki wawasan luas. Di era milenial ini tuntutan guru tak hanya mampu menjadikan siswanya cerdas, tapi yang terpenting adalah bagaimana agar pembelajaran yang diciptakan dapat dinikmati oleh siswa. Untuk itu, penguasaan metode pembelajaran yang variatif merupakan sebuah keharusan. Bahan dan media yang berbasis teknologi dapat menjadi alternative.

Demikian pula dalam proses penilaian, guru dapat memanfaatkan teknologi mediayang tentu saja semakin mempermudah dan mempercepat penilaian. Salah satunya adalah dengan aplikasi Google Form. Google Form merupakan inovasi baru dari Google untuk memudahkan akses data elektronik secara cepat dan akurat.

Hal inilah yang telah dilakukan oleh seluruh guru MAN 2 Jakarta sejak semester ganjil 2018. Sosialisasi penilaian dengan menggunakan Google Form ini disampaiakan oleh Drs. Sudiarto sebagai guru mata pelajaran Fisika dan Wida Fery Astini, S.Kom.sebagai guru TIK. Metode tutor sebaya yang digunakan dalam kegiatan sosialisasi ini lebih dapat dipahami bagi sebagian besar guru MAN 2 Jakarta.

“Belajar dengan sesama teman guru yang sudah bisa lebih efektif dibandingkan kita mendatangkan narasumber dari luar,” komentar Dewi Setiawaty, S.Pd. tentang program ini. Ya, metode tutor sebaya ini ternyata membuat guru-guru lebih bersemangat dalam memahami materi. “Saya bisa bertanya kapan saja pada Bu Wida atau teman yang sudah bisa lebih dulu tanpa merasa rikuh atau malu,” ujar Yelly Gusrita, salah satu peserta yang selalu aktif hadir dalam kegiatan ini.
Tutorial sebaya dilaksanakan secara rutin setiap hari Selasa dan Kamis, mulai pk.06.30 – 07.30 bertempat di ruang guru. Materi yang disampaikan berkaitan dengan peningkatan mutu pembelajaran guru, diantaranya penyusunan soal HOTS, penyusunan RPP, dan Format Penilaian berbasis Google Form.

Tak ada waktu yang sia-sia, inilah prinsip yang diterapkan Kepala MAN 2 Jakarta, Dra. Hj. Nurlaelah, M.Pd. unuk itulah waktu yang digunakan dalam kegiatan tutor sebaya ini pun memanfaatkan waktu pagi hari sebelum jam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Pada waktu yang bersamaan, siswa mwlaksanakan kegiatan Tadarus, Tahfiz, dan shalat Dhuha (TTD) di lapangan. “Pada prinsipnya kita kan sebagai manusia pembelajar, termasuk guru. Jadi tak ada alasan untuk berhenti belajar karena merasa sudah bisa.” tegas beliau. (Yuyum Daryumi)