Belajar tak hanya di dalam kelas. Lebih mengena dan bermakna tentu dengan melihat langsung ke lapangan dan mempraktikkannya. Itulah yang mendasari MAN 2 Jakarta menyelenggarakan study tour ke beberapa tempat di luar Jakarta. Pilihan tahun 2018 ini adalah Malang dan Jogjakarta. Kedua tempat itu menjadi destinasi study sekaligus wisata karena memiliki keunikan dan keunggulan masing-masing. Di bidang pendidikan, siapa yang tak mengenal Jogjakarta. Kota pelajar sudah teramat melekat untuk kota ini. Sedangkan Malang, konon juga sudah mulai dijuluki Kota Pelajar kedua setelah Kota Gudeg Jogjakarta.
Study Tour kali ini melibatkan seluruh siswa kelas XI yang berjumlah 204 siswa dan 20 guru pendamping. Pada hari pertama tiba di Malang, seluruh peserta disuguhi dengan keindahan panorama gunung Bromo. Selain kawah Bromo yang masih aktif dan membuat penasaran para pendaki, hal unik yang menyedot perhatian pengunjung yakni penduduk asli Bromo. Suku Tengger yang merupakan suku asli Bromo merupakan keturunan kerajaan Majapahit. Secara budaya dan bahasa, sekilas mereka menyerupai dialek bahasa Jawa –Madura.
Pendakian di gunung Bromo hanya berlangsung tiga jam. Sesuai agenda perjalanan, acara selanjutnya yakni mengunjungi Universitas Brawijaya, Malang. Perguruan Tinggi Negeri ini cukup kesohor di Indonesia, terbukti dengan membludaknya peminat di PTN yang berlokasi di tengah kota Malang ini. Sambutan pihak kampus yang sangat baik membuat seluruh siswa antusias bertanya seputar program studi dan kiat masuk ke Unbraw. Kelelahan peserta siang itu terhibur dengan kehadiran para mahasiswa Unbraw yang ternyata alumni MAN 2 Jakarta. mereka sengaja menyempatkan diri bertemu dengan adik kelas dan guru MAN 2 Jakarta untuk silaturahmi sekaligus memberi support agar tetap optimis masuk di PTN.
Puas berdialog di aula Unbraw, kunjungan dilanjutkan ke UIN Malang. Jika selama ini siswa MAN 2 Jakarta mengenal UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, maka kali ini study banding ke UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Tak bisa dipungkiri, siswa madrasah memiliki minat dan peluang yang lebih besar untuk masuk ke UIN. Selain berkunjung ke kampus, peserta juga mengunjungi salah satu ikon kota Malang yang sedang tren saat ini. Ya, Museum Angkut. Sesuai namanya, di museum ini pengunjung disuguhkan dengan berbagai jenis alat transportasi yang ada di Indonesia khususnya dan beberapa negara di dunia. Selain menyuguhkan informasi yang lengkap mengenai dunia transportasi, tentu saja banyak spot menarik yang instagramable untuk berfoto.
Kunjungan di Malang berakhir di Museum Angkut. Jogjakarta menunggu untuk dikunjungi. Kampus yang pertama kami sambangi tentu saja Universitas Gajah mada (UGM). Kampus iconic yang berlokasi di Bulaksumur ini ternyata sebenar-benarnya kampus. Gedung tua dan suasana belajar sangat kentara di berbagai sudut kampus, tak terkecuali di kantin. Hampir semua mahasiswa yang menikmati makan siang di kantin juga sambil membawa seabrek tugas. Maka jadilah diskusi ilmiah antar mahasiswa sambil menikmati gudeg dan camilan khas Jogja. Perpaduan tradisi dan ilmu yang sempurna!
Kunjungan di kampus UGM disambut hangat oleh Wakil Dekan Fakultas Filsafat Dr. Septiana Dwi Putri Maharani, M.Pd. dan Ketua Pusat Studi Pancasila, Heru Santoso yang secara sederhana mengajak seluruh peserta ke alam logika berpikir. Penyampain yang menarik dan pembawaan yang ramah membuat waktu diskusi terasa singkat. “Puncak segala ilmu ada dalam Al Quran. Saya senang hari ini saya bertemu dengan anak madrasah yang bisa dan tahu akan kandungan Al Fatihah, karena inilah ibu dari segala ilmu,” ungkapnya dengan bangga. Dalam kesempatan itu beliau juga memberikan hadiah berupa uang pada Muhammad Faisal(kelas XI IPS 2) karena berhasil menerjemahkan surat Al Fatihah dengan tepat.
Kunjungan kampus yang terakhir adalah UVN (Universitas Veteran Nasional). Perguruan Tinggi ini pun tak kalah menarik minat siswa. Dengan berbagai program kuliah dapat menjadi salah satu alternative pendidikan tinggi yang ditempuh.
Jika berkunjung ke Jogja tak lengkap rasanya jika tak berkunjung ke Maliobor. Pusat perbelanjaan yang berada di tengha kota Jogja dan berdekatan dengan keratin Jogjakarta ini memang surganya oleh-oleh. Batik, souvenir dan makanan khas Jogja bisa didapatkan di sini.
Pagi hari, tujuan wisata terakhir adalah Candi Prambanan dan Pantai Parang Tritis. Candi Prambana dipilih karena berkaitan dengan sejarah kerajaan Hindu di Indonesia. Meskipun tak semegah Borobudur, Prambanan tetap menyimpan keagungannya, dan layak dijadikan sebagai wisata sejarah.
Parangtritis menjadi penutup destinasi study tour kali ini. Pantai yang selalu berombak tiada henti ini tetap menawan untuk dijadikan objek selfie pengunjung. Terlebih Dinas Pariwisata Jogjakarta memoles beberapa titik di pantai ini dengan berbagai hiasan. Sayangnya waktu kunjungan kurang tepat. Pukul 14.00 adalah waktu di mana matahari sangat terik sehingga pengunjung perlu menyiapkan pelindung seperti topi dan sunblock tentunya. Terlepas dari itu semua, study tour kali ini meninggalkan kenangan tersendiri di hati siswa.
“Senang sekali bisa jalan-jalan bersama teman-teman. Saya juga senang dapat menginjakkan kaki di beberapa kampus, terutama Unbraw. Semoga nanti saya jadi mahasiswa di sana,” ungkap Salman, salah seorang peserta study tour. (Yuyum Daryumi)