Keberadaan peneliti, khususnya di kalangan anak muda, belakangan ini mengalami penurunan. Beberapa komperisi Karya Tulis Ilmiah yang diselenggarakan LIPI dan lembaga lain selalu dimenangi oleh peneliti muda dari daerah. Bahkan tiga tahun terakhir, provinsi DKI Jakarta nyaris tak terdengar di ajang kompetisi ilmiah ini.

Melihat kondisi tersebut, MAN 2 Jakarta menggelar kegiatan pelatihan Madrasah Young Researches (MYRES). Dengan tema “We`re the Next Scientist “, acara ini dilaksanakan mulai 13-14 Desember 2019.

“Dengan adanya kegiatan ini kami berharap akan muncul peneliti muda yang mampu memunculkan inovasi yang kreatif di berbagai bidang, “ ujar Wido Prayoga, S.Pd. selaku Kepala MAN 2 Jakarta. Dalam praktiknya, seluruh peserta yag berjumlah 57 peserta ini dikelompokkan menjadi tiga bidang penelitian, yakni Science, Sosial dan Humaniora serta bidang Keagamaan. Tiap kelompok yang terdir dua peserta tersebut selanjutnya menentukan tema dan objek penelitian`

“Ada beberapa judul penelitian yang bagus. Ini bukti bahwa kita masih punya peluang untuk maju dalam KSM maupun MYRES tingkat nasional tahun depan,”, ujar Munasprianto Ramli, PhD. selau narasumber acara ini. Munas berharap DKI Jakarta dapat bersaing dengan peneliti muda dari berbagai daerah. Selaku dewan juri pada ajang bergengsi seperti KSM dan MYRES, Munas  banyaj memberikan kiat bagaimana agar sebuah penelitian dapat lolos menjadi tiga besar dalam ajang kompetisi KTI. Selain inovasi, penelitian yang baik juga harus memmpertimbangkan azas kebermanfaatan. Artinya, penelitian tersebut mampu membawa manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Selama kegiatan berlangsung seluruh peserta terlihat antusias mengikuti  kegiatan. “Kegiatan ini makin membuka wawasan saya bahwa seorang peneliti ternyata harus peka terhadap keadaan sekitar dan menjadikannya sebuah masalah penelitian, “ ungkap Ghaitsa sumringah. Ghaitsa yang baru setahun menjadi anggota KIR MAN 2 Jakarta berharap penelitian bidang science yang dilakukannya mampu menembus ajang komperisi tingkat nasional. Di luar itu semua, seorang peneliti muda haruslah membuka wawasan dan pikiran melalui membaca. Dengan memperbanyak bacaan berarti wawasan kelimuan makin bertambah dan sensitivitas terhadap realita kehidupan pun makin terasah. (Yuyum Daryumi)