Ada yang berbeda pada Senin, 26 November 2018 di MAN 2 Jakarta. Ya, petugas upacara kali ini didominasi oleh guru dan tenaga kependidikan. Tentu saja hal ini menjadi sesuatu yang menarik bagi sebagian besar siswa. Antusiasme mereka sangat terlihat saat pengibaran bendera berhasil dikibarkan oleh petugas pengibar bendera, Doni Robygus Kurniawan, S.Pd., Widi Utami Dewi, SE, dan Zamal, S,Pd.

Kekhidmatan upacara kali ini tak lepas dari kepiawaian Halwanurrofiq, S.Si. sebagai pemimpin upacara. Dalam sambutannya sebagai Pembina upacara, Dra. Hj. Nurlaelah, M.Pd. menyampaikan bahwa upacara kali ini mengingatkan kita semua bahwa kedudukan guru sangat mulia, bahkan sejak zaman kerajaan Hindu. Kedudukan guru kala itu amat dihormati dan disegani karena ilmu yang dimilikinya. Selanjutnya beliau membacakan pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy.

Dalam pidato tersebut Muhadjir menyebutkan tiga ciri guru professional yang harus dimiliki oleh para guru. Pertama, guru professional adalah guru yang telah memenuhi kompetensi dan keahlian inti sebagai pendidik. Kedua, seorang guru yang professional hendaknya mampu membangun kesejawatan. Ketiga, seorang guru yang professional hendaknya merawat jiwa sosialnya. Ketiga ciri tersebut sejalan dengan tema Hari Guru Nasional tahun 2018, yakni “Meningkatkan Profesionalisme Guru Menuju Pendidikan Abad XXI”.

Selepas upacara, seluruh siswa menyanyikan lagu “Hymne Guru” dan saat itu pula spanduk besar bertuliskan “Happy Teacher Day” perlahan terbuka dari lantai dua. Dalam waktu yang bersamaan beberapa siswa melepas serangkaian balon aneka warna ke udara. Sontak peristiwa ini membuat beberapa guru mentikkan air mata haru bercampur bangga.
“Saya tidak menyangka kalau anak-anak ternyata mempunyai kepedulian pada guru-gurunya. Alhamdulillah..”, ujar Drs. Sudarso usai mengikuti upacara. Kemeriahan tak sampai di situ, seluruh guru dan karyawan mendapat apresiasi berupa booket bunga hasil kreasi mereka sendiri dan berbagai cidera mata lain yang tak kalah menarik.
“Selamat Hari Guru, Bu, Pak,” begitu yang terucap dari ratusn siswa yang beriringan memberi ucapan selamat pada Bapak Ibu Guru. Ya, tak ada kata paling indah selain ucapan tulus terima kasih dari mereka, para siswa yang dengan jujur menghargai para guru. Semoga ketulusan mereka tak sebatas momen tertentu, tapi terus terpatri sehingga menyadari bahwa berkat gurulah mereka bisa menjadi seperti saat ini. Selamat Hari Guru!(Yuyum Daryumi)